← Back to portfolio
Published on

Dari Sidestream ke Mainstream: Kembalinya Tren Anime di Indonesia

Artikel ini ditulis untuk submisi daring di www.instagram.com/insituid

Kilas balik semasa kecil, anime Jepang seringkali menjadi santapan menyenangkan di hari Minggu pagi. Mulai dari Dragon Ball hingga Crayon Shin-chan, rentetan tayangan animasi tersebut selalu menghiasi akhir pekan kita. Tidak hanya itu, obsesi terhadap komik Jepang—atau manga—juga turut menjadi sorotan budaya pada era 70an hingga awal 2000an. Tak heran bila generasi Milenial sangat akrab dengan segala pernak pernik berbau Jepang, baik frasa ucapan maupun varian makanan.

Namun seiring berjalannya waktu, berbagai saluran televisi lokal mulai berhenti menayangkan anime. Gelombang budaya Barat pun mulai merebak ke Indonesia ketika akses internet menyebar luas. Preferensi teks media dan budaya pun beralih dari Jepang ke Barat sebagai arus utama, sehingga anime dan manga pun telah menjadi subkultur alternatif yang hanya diminati oleh segmentasi pasar yang spesifik.

Meski begitu, jika menilik kembali tren media dan budaya beberapa tahun belakangan ini, tak dapat dipungkiri bahwa anime kembali marak diperbincangkan di ruang digital. Bahkan, banyak para ‘anti-anime’ yang kini mulai menjadi pendatang baru di fandom kartun Jepang ini. Lantas, apa yang membuat kehadiran anime kembali menjadi budaya arus utama di Indonesia?

Pengaruh Selebriti pada Tren Anime

Seperti beragam tren lainnya, cikal bakal suatu fenomena budaya di era internet ini dipengaruhi oleh selebriti. Begitu pula dengan anime yang menjadi populer di Amerika Serikat berkat cuitan dari Kim Kardashian pada tahun 2018 yang bertuliskan, “I am obsessed with anime. That was legit my inspo”. Tak hanya itu, pada 2018 pun Kanye West sempat mengemukakan bahwa inspirasi kreatifnya berasal dari anime Akira. Berlanjut ke atlet basket ternama, pada tahun 2019 Michael Jordan juga sempat merilis koleksi eksklusifnya bersama COACH yang terinspirasi dari anime Naruto. Billie Eilish—yang seringkali menjadi figur panutan Gen-Z—juga turut menyatakan kecintaannya terhadap Ghibli, khususnya pada sutradara Hayao Miyazaki. Hingga akhirnya, pada akhir Oktober 2020 lalu, Megan Thee Stallion mengunggah selfie dirinya dengan referensi anime Kakegurui yang mendapatkan respons positif dari para wibu (penggemar anime).

Dengan obsesi khalayak Indonesia pada banyaknya selebriti tersebut, rasanya wajar bila anime mendapatkan eksposur yang sangat tinggi terhadap masyarakat luas. Melalui endorsement semacam itu, banyak orang yang mulai bereksperimen menonton anime dan ujung-ujungnya malah ketagihan. Terlebih dengan adanya layanan streaming digital, akses menonton pun menjadi lebih mudah. Fandom anime mulai bertambah dan beragam diskusi kian menjalar ke ranah media sosial, seperti Twitter dan TikTok.

Estetika Jepang dalam Konten TikTok

Berkat pengaruh selebriti, Gen-Z dan generasi akhir Milenial pun mulai ramai membahas tren anime di TikTok. Mulai dari mode pakaian yang terinspirasi dari anime hingga soundtrack berbahasa Jepang, kini tagar #anime di TikTok telah dilihat sebanyak 175,3 miliar kali.

Tidak hanya berpusat pada konten anime, beragam konten non-anime bercorak Jepang pun telah menjadi pilihan favorit para pengguna Tiktok di Indonesia. Sebut saja video tutorial memasak bento ataupun promosi berbagai restoran Jepang yang murah dan populer di Jakarta. Lebih dari itu, kini mulai marak berbagai video lanskap di Jakarta yang diedit mengikuti sinematografi bernuansa Jepang. Mulai dari sorotan langit biru dengan penuhnya kabel listrik ala Tokyo hingga pemandangan gedung di kala senja dari jendela MRT, berbagai konten ini dianggap estetik dan mencerminkan atmosfer khas Jepang. Tak tertinggal pula lagu Stay With Me oleh Miki Matsubara yang kini kerap hadir sebagai lagu TikTok untuk menemani beragam konten khas Jepang tersebut.

Kompleksitas Plot dan Karakter dalam Anime

Selain dorongan selebriti dan pengaruh konten Tiktok, hal lain yang menjadikan anime kembali digemari adalah kompleksitas karakter serta alur ceritanya. Berbeda dengan Disney atau Marvel yang membungkus cerita dengan template berseragam—pahlawan vs. penjahat—anime cenderung menciptakan konsepsi narasi yang lebih kompleks.

Terdiri dari beragam varian, anime menghadirkan 45 genre mulai dari petualangan, aksi, psikologi, romantis, dan masih banyak lagi. Selain itu, karakter anime pun seringkali dibangun dalam sebuah paradoks, yakni tidak hanya menampilkan hitam dan putih, namun juga menunjukkan berbagai lapisan emosi serta nilai baik-buruk yang dimiliki oleh setiap manusia dalam realita aslinya. Oleh karena itu, meskipun dibalut dengan animasi yang sering dianggap kekanak-kanakan, pada esensinya anime justru merefleksikan realita hidup dengan ciri khasnya tersendiri. Hal inilah yang juga menjadi daya tarik anime yang tidak dapat ditemukan dalam kartun Barat.

Melalui cuitan selebriti, kompleksitas plot dan konten ‘estetik’ TikTok, anime telah menjadi tren budaya pop arus utama yang digandrungi para remaja dan dewasa muda. Dengan tingginya antusiasme masyarakat, bukan tidak mungkin rasanya jika dalam beberapa tahun ke depan, Jepang bisa menjadi kiblat budaya populer Indonesia yang menggantikan posisi Barat.